Di suatu ruang IGD sebuah rumah sakit besar di Jakarta, seorang ibu bernama Rina terbaring lemah. Usianya 42 tahun. Seorang guru privat yang tak pernah memiliki riwayat penyakit berat. Namun, hari itu hidupnya berubah dalam hitungan menit. Tiga bulan sebelumnya, ia didiagnosis kanker stadium lanjut. Hari itu, ia dirawat akibat komplikasi setelah kemoterapi. Suaminya, Bagus, berdiri di sisi kasur dengan tangan gemetar sambil menatap layar ponselnya: tagihan perawatan mencapai puluhan juta.
Mereka tak punya asuransi kesehatan. Mereka menunda-nunda untuk “nanti saja,” karena Rina jarang sakit. Mereka pikir risiko itu “bukan untuk hari ini.” Tapi hari itu benar-benar tiba.
Dan kehidupan finansial mereka berubah selamanya.
Kejadian seperti ini bukan anomali. Menurut sebuah jurnal BMC Health Services (2021), lebih dari 60% kasus bangkrut medis di Asia Tenggara dipicu oleh krisis biaya kesehatan keluarga yang tidak diasuransikan dengan baik. Di Indonesia, kasus seperti ini sering diselesaikan bukan dengan klaim asuransi, tapi dengan donasi, pinjaman keluarga, atau crowdfunding.
Namun, satu hal yang jarang dipahami: ketika hidup menyodorkan risiko besar, solidaritas orang lain sering tak cukup karena risiko bukan hanya memukul tubuh, tapi juga menghancurkan keseimbangan finansial.
Di sinilah asuransi seharusnya bekerja. Tapi apakah kita sadar akan fungsinya?
Sayangnya, data berkata sebaliknya.
Data yang Berbicara: Rendahnya Literasi Proteksi di Indonesia
Berdasarkan survei OJK tahun 2022:
- Indeks literasi asuransi: 19,40%
- Indeks inklusi asuransi (yang punya asuransi): 16,63%
- Jumlah penduduk Indonesia yang memiliki asuransi jiwa: sekitar 12,1%
- Jumlah yang memiliki asuransi kesehatan privat (di luar BPJS): < 7%
Ini artinya:
8 dari 10 orang di negara ini **tidak paham cara kerja proteksi diri dan keuangan.
Mayoritas yang punya asuransi **bahkan tidak mengerti isi polisnya.
Jutaan keluarga bergantung pada tabungan, bantuan sosial, dan harapan (saat risiko datang).
Apakah masalahnya sekadar kurang informasi? Tidak sesederhana itu. Literasi asuransi bukan hanya soal angka. Ini soal pemahaman risiko dan cara mengantisipasinya.
Faktanya di dunia nyata, ada jurang antara pemahaman dan tindakan. Jurang ini terbentuk dari banyak faktor:
Mengapa Kita Mengabaikan Proteksi? Sebuah Analisis Psikologis
1. Optimism Bias, “Saya pasti baik-baik saja”
Manusia secara default mempercayai bahwa dirinya punya risiko lebih kecil dibanding orang lain. Dalam studi BEjournal (2020), responden yang sadar bahwa kecelakaan itu umum… tetap merasa “tidak mungkin” mereka sendiri mengalaminya.
Kita menunda proteksi karena kita percaya hari esok akan sama seperti hari ini. Padahal hidup lebih seperti gelombang daripada garis lurus.
2. Trauma Agen Asuransi
Riset SMERU (2021) menunjukkan bahwa banyak masyarakat memiliki persepsi negatif terhadap asuransi karena:
-
- permintaan klaim yang rumit atau ditolak
- penjual produk yang menekan mental
- janji manis yang tak sesuai kenyataan.
Ini menciptakan sikap “tidak percaya” pada sistem, bukan pada manfaatnya.
3. Budaya Gatot (Gaskeun, Tunda, Tunggu Kejadian)
Ini budaya khas kita: bertindak reaktif, bukan preventif.
Sakit dulu baru obati. Ambruk dulu baru bangun dana darurat. Kecelakaan dulu baru bicara proteksi kendaraan. Padahal sifat risiko adalah: sekali datang, ia tidak menunggu persiapanmu.
4. Wajah Nyata yang Mengalami Risiko dan Konsekuensinya
Di bawah ini adalah 3 kisah nyata tentang korban rendahnya literasi proteksi di level individu:
- Kasus 1: Arif – Pencari Nafkah Utama, 42 tahun
Arif seorang wirausaha kecil. Ia selalu menunda asuransi jiwa karena “sedang bangun bisnis dulu.” Hingga suatu pagi, ia meninggal karena serangan jantung. Istrinya terpaksa menjual rumah mereka untuk membiayai biaya hidup dan melunasi cicilan usaha. Keluarga jatuh miskin bukan karena kehilangan Arif, tapi karena kehilangan sistem keuangannya.
- Kasus 2: Rara – Profesional Lajang, 29 tahun
Rara memiliki BPJS saja. Suatu hari ia terkena tumor jinak yang butuh operasi di rumah sakit swasta, karena antrean BPJS penuh. Biaya operasi Rp75 juta. BPJS hanya meng-cover sebagian kecil. Tanpa proteksi tambahan, ia meminjam uang dari saudara dan menjual perhiasan ibunya. Kehormatan menjadi korban pertama ketika risiko tak tercover.
- Kasus 3: Lani – Fresh Graduate, 25 tahun
Lani membeli asuransi unit link yang dikira tabungan. Ia tidak paham bahwa nilai tunai butuh waktu lama berkembang. Tahun ke-4 premi terasa berat dan dia ingin berhenti padahal saat itu justru fase terpenting dari masa pertumbuhan nilai tunai. Lani akhirnya kehilangan perlindungan dan rugi secara emosi dan finansial.
Masalahnya bukan pada “asuransi buruk”, tapi pengetahuan yang dangkal sebelum membeli.
Pertimbangkan Solusi: 5 Pilar Proteksi Diri yang Harus Dimiliki Individu
Di dunia keuangan pribadi, ada prinsip penting:
Proteksi dulu, baru akumulasi: Sebelum membangun rumah finansialmu (investasi, aset, passive income), pastikan pondasimu kuat: proteksi risiko.
Pilar 1: Asuransi Kesehatan, Meredam Serangan Biaya Tak Terduga
Fokus pada yang punya **limit tahunan besar (ideal Rp1 miliar ke atas)
Jangan hanya mengejar “kelas kamar”, lihat cakupan penyakit dan metode perawatan
Perlindungan utama untuk penyakit akut, perawatan darurat, ICU, dll.
Kalau kamu tidak punya asuransi kesehatan, kamu dari awal sudah bertaruh nyawa dengan isi rekening.
Pilar 2: Asuransi Penyakit Kritis Karena Sakit Bukan Cuma Soal RS
Memberikan uang tunai saat didiagnosa penyakit kritis
Untuk menutupi hilangnya penghasilan selama masa pemulihan
Contoh: kena kanker → butuh 6–24 bulan tanpa bekerja
Penyakit tak hanya menyerang badan, tapi mematikan arus keuangan keluarga.
Pilar 3: Asuransi Jiwa Menjaga Keutuhan Ekonomi Keluarga
Diperlukan jika kamu adalah pencari nafkah
Ideal: uang pertanggungan (UP) 10–15x pengeluaran tahunan keluarga
Ini adalah jaminan hidup bukan kamu, tapi orang yang kamu tinggalkan
Orang yang kamu tinggalkan tidak boleh “mati finansial” setelah kamu meninggal.
Pilar 4: Asuransi Aset (Rumah/Mobil/Bisnis)
Untuk melindungi aset hasil kerja keras dari kerusakan atau kehilangan
Misalnya: rumah terbakar, mobil kecelakaan, atau kantor banjir
Dana darurat untuk kebutuhan sehari – hari, namun asuransi untuk stabilitas hidup.
Pilar 5: Dana Darurat (Self Insurance)
6–12 bulan pengeluaran bulanan
Untuk menutup risiko kecil dan interupsi jangka pendek (PHK, pindah kota, dll)
Letakkan di instrumen likuid rendah risiko
Dana darurat adalah ibarat kamu sedang menjadi “asuransi kecil” bagi hidupmu sendiri.
Metode “3L”, Framework Proteksi Pribadi yang Mudah Dijalankan
Setiap individu bisa mulai menyusun peta proteksi diri menggunakan formula berikut:
1. Lihat Risiko (daftar risiko yang masuk akal)
2. Lacak Dampak (berapa biaya “terburuk” dari risiko tersebut)
3. Lindungi Diri (gunakan asuransi / dana darurat sesuai tipe risikonya)
Contoh praktis:
Risiko: kecelakaan motor → solusinya asuransi kerugian + jaminan medis
Risiko: jadi tulang punggung keluarga → solusinya asuransi jiwa
Risiko: tinggal di daerah rawan banjir → solusinya asuransi properti + tabungan darurat evakuasi
Blueprint Proteksi 10 Tahun (Usia 20–60)
| Usia | Fokus Proteksi Dominan | Tujuan Finansial Utama |
| 20–30 | Kesehatan + Dana Darurat | Membangun pondasi & gaya hidup mandiri |
| 30–40 | Jiwa + Penyakit Kritis | Melindungi keluarga & anak kecil |
| 40–50 | Review aset + upgrade limit kesehatan | Menjaga hasil kerja dan gaya hidup |
| 50–60 | Kesehatan berkelanjutan + warisan terstruktur | Menjaga kestabilan dan kemandirian pasca pensiun |
Sebuah Kesimpulan
Banyak keluarga runtuh secara finansial bukan karena penghasilan kecil, tapi karena tak siap menghadapi risiko hidup. Rendahnya literasi proteksi membuat banyak orang abai pada pentingnya perlindungan finansial — hingga akhirnya satu kejadian tak terduga menggerus tabungan, investasi, bahkan masa depan.
Akar masalahnya berlapis, mulai dari bias emosi yang membuat orang menunda, salah informasi dari promosi yang menyesatkan hingga trauma terhadap produk proteksi masa lalu. Padahal, proteksi bukan soal takut rugi, tapi soal mempersiapkan diri.
Solusinya jelas: terapkan 5 Pilar Proteksi Pribadi dan jalankan Metode 3L yang akan menyeimbangkan kebutuhan, logika, dan langkah nyata agar perlindungan keuanganmu kuat dan berkelanjutan.
20 Menit untuk 20 Tahun Hidup
Siapkan secarik kertas dan jawab ini:
1. Apa risiko terbesar yang mungkin saya hadapi?
2. Berapa biaya jika itu terjadi?
3. Siapa yang terkena dampaknya? saya, pasangan, anak?
4. Apa yang sudah saya lindungi, dan apa yang belum?
Lalu tanyakan pada diri sendiri:
“Kalau saya bisa membayar ketenangan untuk orang-orang yang saya cintai, apakah saya mau menundanya?”
Karena proteksi bukan soal takut pada hidup.
ini soal menjaga mereka yang hadir di dalamnya.









